‘Letusan’ Krakatau

Rumor panas penawaran saham perdana PT Krakatau Steel (KS) terus bergulir. Penetapan harga yang dinilai terlalu murah dan tidak transparannya proses penjatahan menjadi sorotan. Tudingan dan kecurigaan tentang adanya rekayasa dalam proses IPO perusahaan baja pelat merah ini belumlah surut. Tidak pelak lagi, inilah IPO BUMN yang paling banyak menuai kritik. Pemberitaan mengenai IPO KS ini semakin memanas ketika ditetapkan harga IPO Rp850 2 minggu lalu. DPR pun bersiap membentuk Panja untuk memenuhi keluhan dan masukan berbagai pihak. Di luar rencana ini, bergulir juga gugatan sekelompok pengamat terhadap penyelenggara negara terkait IPO pembayar dividen terbesar untuk APBN dari kelompok BUMN manufaktur. Diindikasikan telah terjadi kerugian negara akibat murahnya harga IPO KS. Kementerian BUMN pun bertindak dengan membentuk tim pamantau dan pengawas IPO KS serta meminta BPK untuk melakukan audit proses IPO KS ini.

Relatif murah

Di mata saya, harga Rp850 berada di antara murah dan wajar, tetapi tidak sangat murah. Dengan PER 2011 di 9,9 kali, PER KS masih jauh di bawah PER wajar bursa kita yang sekitar 14 kali. Akan tetapi, PER sebesar ini tidak rendah sekali. Masih ada satu dua saham LQ-45 dan puluhan saham diluar LQ-45 yang mempunyai PER jauh di bawah 9,9. Mungkin saja di harga sebesar itulah para investor kelas kakap memesannya. Investor kelas teri dapat diabaikan dalam proses penetapan harga ini karena umumnya mereka memasang strike price alias ikut pada harga berapa saja. Jika harga Rp850 itu memang harga keseimbangan tanpa intervensi yang terjadi di pasar, tidak ada yang perlu dicurigai.

Masalah mulai muncul jika harga keseimbangan sebenarnya di atas Rp850, tetapi ada pihak yang menginginkan harga menjadi Rp850. Di sini mulai ada indikasi kerugian negara. Jika benar ada kehendak sekelompok orang untuk membuat harga IPO KS harus murah yaitu Rp850 untuk menguntungkan investor dan mengabaikan harga pesanan yang masuk saat book building, kita tentunya sangat menyayangkan. Jika penetapan bukan pada harga keseimbangan ini yang dimaui, formulir pemesanan dapat saja direkayasa sehingga ketika diperiksa, semua dokumen mengonfirmasi kondisi ini. Bahwa sebagian besar pesanan yang masuk dari investor institusi dan investor asing mencantumkan harga Rp850.

Penjatahan tidak fair

Buat saya, isu yang lebih besar daripada masalah harga Rp850 ini adalah bagaimana penjatahan di kalangan investor dilakukan. Saya curiga investor asing diprioritaskan karena kepentingan satu dua kelompok. Kecurigaan lain adalah banyak politisi dan pejabat di kementerian BUMN yang meminta jatah besar atau fixed allotment. Sementara investor ritel hanya kebagian 1%. Sebagai pemilik akun di salah satu perusahaan sekuritas BUMN, tidak pernah saya memperoleh penjatahan saham IPO BUMN favorit lebih dari 5%.

Padahal oversubscription biasanya adalah 5-10 kali. Jika investor domestik dan ritel diprioritaskan dan ada fairness, mestinya jatah investor ritel adalah 10-20% dan bukan 1-4%. Untuk menyelesaikan karut-marut proses penjatahan ini, sudah waktunya ditegakkan aturan bahwa yang dapat memesan melalui book building adalah mereka yang punya akun di perusahaan sekuritas, dengan jumlah pemesanan maksimal dua kali lipat portofolio yang dimiliki. Sangat mungkin ada di antara para pemesan dari lingkaran kekuasaan yang belum mempunyai akun di perusahaan sekuritas. Bukan apa-apa, menjadi aneh jika pemesanan IPO KS kelebihan permintaan sembilan kali tetapi para investor ritel hanya memperoleh 1% dari total pesanan.

Kecurigaan ‘ada main’ ini semakin kuat ketika jatah kami sebagai investor ritel di-naikkan menjadi 2% minggu lalu karena ketakutan para politisi dan pejabat ketika mendengar akan diadakan audit terhadap proses IPO ini. Dari awal saya mempertanyakan angka 1%. Dari mana angka ini turun, seperti IPO BUMN favorit lain sebelumnya, tidak pernah ada penjelasan, sejak dulu hingga saat ini. Keanehan ini semakin terasa ketika kawan saya yang memesan dari perusahaan sekuritas non-BUMN yang juga bukan penjamin emisi mendapat 1,25% atas pesanannya. Inilah yang patut diperiksa.

Karenanya, saya menyambut baik larangan Menteri BUMN terhadap politisi dan pejabat serta staf khusus di kementeriannya ikut dalam pemesanan saham setiap IPO BUMN untuk menghindari benturan kepentingan. Jika ketentuan ini tidak dapat diterapkan, karena konstitusi tidak melarang dan demi alasan fairness, paling tidak para penguasa itu harus mengikuti aturan main yang berlaku yaitu memesan maksimal dua kali portofolio dan menyetor dana pada waktunya. Jika ini dilakukan, tidak ada alasan para investor ritel hanya dijatah 1%, awalnya, dalam IPO KS ini. Yang saya dengar adalah para anggota dewan yang terhormat dan beberapa pejabat terkait sering meminta alokasi yang pasti atau persentase besar ke perusahaan-perusahaan sekuritas BUMN yang menjadi penjamin emisi.

Bahkan ada di antara mereka yang tidak menyetor dana untuk pemesanan ini pada saatnya yaitu sekitar 1 minggu sebelum saham ini melantai di bursa. Para penguasa ini meminta privilege dan hanya titip pesan, “Jual di hari pertama listing dan saya cukup ditransfer keuntungan bersihnya saja.” Akibat adanya aksi todong ini, tidak mengherankan jika dalam beberapa IPO BUMN sering terjadi anomali. Pada hari pertama, penjamin emisi yang mestinya menjaga harga IPO alias menjadi net buyer malah menjadi net seller.

Tidak jarang perusahaan sekuritas itu bahkan menjadi net seller nomor satu. Apakah ini akan terjadi juga untuk KS akan dapat kita saksikan 2 hari setelah saya menulis artikel ini yaitu pada Rabu tanggal 10 November 2010.Di pasar modal, fairness itu mestinya harga mati yang tidak dapat ditawar. Sudah waktunya penjatahan dalam IPO dibuat transparan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: